MasukDaftar
Hari IniArtikelPertempuranBiografiMode cerita

Asal-Usul Baitullah
Sirah Nabi ﷺJahiliah

Asal-Usul Baitullah

Asal-usul Baitullah, yang juga dikenal sebagai Ka’bah, tidak dapat dipisahkan dari asal-usul bangsa Arab yang mengalami arabisasi. Untuk memahaminya, kita akan menceritakan kisah Ibrahim ﵇. Ketika Ibrahim ﵇ menerima perintah dari Allah ﷻ, beliau membawa Hajar ﵍ dan putra mereka yang masih kecil, Ismail ﵇, ke lembah sunyi yang kelak menjadi Makkah. Tidak ada apa pun di sana: tidak ada manusia, tidak ada air, dan tidak ada tanaman yang tumbuh. Hanya ada dataran tandus dan sunyi di bawah terik matahari.

Keberangkatan ke Makkah

Beliau ﵇ membawa mereka ke suatu tempat di bawah pohon, di lokasi tempat sumur Zamzam kelak muncul. Di sana beliau ﵇ meletakkan sekantong kurma dan sebuah kantong kulit berisi sedikit air. Tanpa memberi penjelasan, beliau ﵇ mulai berjalan pergi.

Hajar ﵍: Wahai Ibrahim ﵇, ke mana engkau pergi? Apakah engkau meninggalkan kami di lembah yang tidak dihuni siapa pun dan tidak memiliki apa-apa ini?

Hajar ﵍: Apakah Allah ﷻ memerintahkanmu untuk melakukan ini?

Ibrahim ﵇: Ya.

Hajar ﵍: Jika demikian, Dia tidak akan menelantarkan kami.

Hajar mengulangi pertanyaannya beberapa kali, tetapi Ibrahim tidak menoleh.

Ibrahim ﵇ terus berjalan hingga mencapai suatu tempat yang membuat mereka tidak lagi dapat melihatnya. Di sana beliau menghadap ke lokasi Baitullah yang kelak dibangun, mengangkat kedua tangannya, dan memanjatkan doa yang hingga kini tetap menjadi salah satu doa paling kuat. Inilah doa yang Allah ﷻ wahyukan dalam Al-Qur’an:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Wahai Tuhan kami, aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak memiliki tanaman, di dekat Rumah-Mu yang suci, agar mereka mendirikan salat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki berupa buah-buahan agar mereka bersyukur.

QS. Ibrahim:37

Hajar ﵍ ditinggalkan seorang diri bersama anaknya. Waktu berlalu, air habis, dan rasa haus mulai menyiksa dirinya ﵍ dan Ismail ﵇. Hajar ﵍ tidak sanggup melihat putranya menderita lalu berlari ke Bukit Safa dengan harapan dapat melihat seseorang. Ia ﵍ tidak melihat siapa pun, kemudian turun, berlari melintasi lembah, dan mendaki Marwa, bukit di seberang. Di sana pun tidak terlihat apa-apa. Sebanyak tujuh kali ia ﵍ menempuh jalur itu, sebuah ritual yang kini dikenal para jemaah haji di seluruh dunia sebagai sa’i antara Safa dan Marwa.

Ketika ia ﵍ mencapai Marwa untuk terakhir kalinya, ia mendengar sebuah suara. Ia ﵍ berdiri diam, kembali mendengarkan, lalu berseru:

Wahai siapa pun engkau, adakah sesuatu yang dapat engkau gunakan untuk menolongku?

Tiba-tiba ia ﵍ melihat seorang malaikat di lokasi Zamzam. Malaikat itu menghentakkan tumitnya ke tanah, lalu air mulai memancar dari dalam bumi. Hajar ﵍ mengumpulkan air tersebut dan membentuk sebuah cekungan. Nabi ﷺ bersabda tentang hal ini:

Seandainya ia tidak berusaha mengumpulkan air itu, Zamzam tentu telah menjadi aliran air yang mengalir di permukaan bumi.

Ia ﵍ minum, memberi makan anaknya, dan dapat beristirahat.

Malaikat itu berkata kepadanya:

Jangan takut. Inilah Rumah Allah ﷻ. Rumah ini akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya. Allah ﷻ tidak menelantarkan hamba-hamba-Nya.

Tidak lama kemudian, orang-orang dari suku Jurhum melintas. Mereka melihat seekor burung yang hanya berputar-putar di atas air lalu mengutus seorang pengintai. Ketika menemukan mata air itu, mereka bertanya kepada Hajar ﵍:

Jurhum: Bolehkah kami tinggal di sini?

Hajar ﵍: Ya, tetapi air ini tetap menjadi milikku.

Dari tempat itu tumbuhlah sebuah masyarakat. Ismail ﵇ tumbuh dewasa di tengah mereka, belajar bahasa Arab, menjadi sosok yang dicintai, dan menikahi salah seorang perempuan mereka. Keturunan beliau ﵇ dikenal sebagai kaum Adnani, mengikuti nama leluhur bersama mereka, 'Adnan.

Ibrahim ﵇ Mengunjungi Makkah

Ibrahim ﵇ sesekali mengunjungi Makkah untuk menemui istri dan putranya. Tampaknya setidaknya ada empat kunjungan. Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an yang Mulia:

فَلَمَّآ أَسۡلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ۝وَنَٰدَيۡنَٰهُ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ۝قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ۝إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ۝وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٖ

Ketika keduanya telah berserah diri kepada Allah dan Ibrahim membaringkan putranya dengan dahi menempel ke tanah. Kemudian Kami menyerunya: "Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu!" Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya itu jelas merupakan ujian yang besar. Dan Kami menebusnya dengan seekor hewan sembelihan yang besar.

QS. As-Saffat: 103-107

Allah ﷻ memperlihatkan kepada Ibrahim ﵇ dalam mimpi bahwa beliau harus mengorbankan putra kesayangannya, Ismail ﵇, atas perintah Allah ﷻ. Ibrahim ﵇ melaksanakan perintah itu, ujian terbesar, tetapi ketika beliau hendak menyembelih Ismail ﵇, pisau tersebut tidak dapat memotong. Malaikat Jibril ﵇ muncul membawa seekor domba jantan, dan sebagai ganti putra kesayangannya, domba itu dipersembahkan untuk disembelih. Hari tersebut kini dikenal sebagai Hari Raya Kurban, hari ketika umat Islam di seluruh dunia merenungkan pengabdian Ibrahim ﵇.

Sebelumnya telah disebutkan bahwa suku Jurhum menikahkan salah seorang perempuan mereka dengan Ismail ﵇. Ibrahim ﵇ kembali berkunjung untuk menemui putranya, Ismail ﵇. Saat itu Hajar ﵍ telah wafat. Ketika tiba di rumah Ismail ﵇, Ibrahim ﵇ mendapati putranya tidak berada di rumah. Beliau ﵇ bertanya kepada istri Ismail ﵇ tentang suaminya dan tentang keadaannya sendiri. Perempuan itu mengeluhkan kemiskinan, maka Ibrahim ﵇ memintanya untuk menyampaikan kepada Ismail ﵇ agar mengganti ambang pintunya. Ismail ﵇ memahami pesan itu lalu menceraikan istrinya dan kemudian menikah lagi.

Pada kunjungan ketiga, Ibrahim ﵇ kembali datang untuk menemui putranya, dan sekali lagi Ismail ﵇ sedang tidak berada di rumah. Beliau menanyakan hal yang sama kepada istri barunya, dan istrinya saat itu bersyukur kepada Allah ﷻ. Ibrahim ﵇ berpesan agar perempuan itu menyampaikan kepada suaminya untuk mempertahankan ambang pintunya, lalu beliau kembali ke Palestina.

Pada kunjungan keempat ke Makkah, beliau melihat Ismail ﵇ sedang meruncingkan anak panah di bawah pohon tinggi dekat Zamzam. Kali ini, mereka akan membangun Baitullah.

Pembangunan Baitullah

Ibrahim ﵇ mengunjungi putranya di tempat beliau dahulu meninggalkan mereka, lalu bersama Ismail ﵇ membangun Baitullah sebagaimana diperintahkan Allah ﷻ:

وَإِذۡ بَوَّأۡنَا لِإِبۡرَٰهِيمَ مَكَانَ ٱلۡبَيۡتِ أَن لَّا تُشۡرِكۡ بِي شَيۡـٔٗا وَطَهِّرۡ بَيۡتِيَ لِلطَّآئِفِينَ وَٱلۡقَآئِمِينَ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ۝ وَأَذِّن فِي ٱلنَّاسِ بِٱلۡحَجِّ يَأۡتُوكَ رِجَالٗا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٖ يَأۡتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٖ

Dan ingatlah ketika Kami menetapkan tempat Baitullah bagi Ibrahim seraya berfirman: "Janganlah mempersekutukan sesuatu pun dengan-Ku, dan sucikanlah Rumah-Ku bagi orang-orang yang bertawaf, orang-orang yang berdiri, serta orang-orang yang rukuk dan sujud. Serukanlah ibadah haji kepada manusia. Mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai setiap unta yang kurus, mereka akan datang dari setiap celah pegunungan yang dalam dan jauh.

QS. Al-Hajj: 26-27

Allah ﷻ menunjukkan kepada beliau lokasi yang tepat, di dekat mata air Zamzam. Di tempat itu beliau menerima perintah untuk membangun sebuah tempat suci dan diperlihatkan bagaimana mereka harus membangunnya. Keempat sudutnya menghadap ke empat arah mata angin. Benda paling sakral di tempat suci ini adalah sebuah batu dari langit yang semula berada di Gunung Abu Qubays di dekat sana. Seorang malaikat membawa batu tersebut kepada Ibrahim ﵇. Batu itu telah terpelihara di sana sejak tiba di bumi:

وَعَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «نَزَلَ الْحَجَرُ الْأَسْوَدُ مِنَ الْجَنَّةِ وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ» . رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالتِّرْمِذِيُّ وَقَالَ: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيح

Batu itu turun dari surga, lebih putih daripada susu, tetapi dosa anak-anak Adam membuatnya menjadi hitam.

Mishkat al-Masabih 2577, Buku 10, Hadis 71

Hajar Aswad akhirnya ditempatkan di sudut timur Ka’bah, menyempurnakan tempat suci tersebut. Allah ﷻ memerintahkan Ibrahim ﵇ untuk menetapkan rangkaian ibadah haji, yang mencakup berjalan bolak-balik antara Safa dan Marwa. Sejak saat itu, orang-orang datang dari berbagai tempat untuk mengunjungi Baitullah, dan jumlah mereka terus bertambah. Ibadah haji dilaksanakan setahun sekali, tetapi Ka’bah juga dapat dikunjungi melalui umrah kapan saja seseorang menghendakinya. Orang-orang mempelajari rangkaian ibadah haji dari Ibrahim ﵇ dan Ismail ﵇, lalu melaksanakannya dengan penuh pengabdian dan ketekunan.

Memuat peta...

Bangsa Arab yang Mengalami Arabisasi

Bangsa Arab yang mengalami arabisasi adalah keturunan Ismail ﵇. Dari garis keturunan ini lahirlah suku 'Adnan, suku yang kelak menjadi asal garis keturunan Nabi ﷺ. Ma’ad ibn 'Adnan memiliki dua putra, Rabi’ah dan Nizar. Suku-suku paling terkemuka yang berasal dari Rabi’ah adalah Bakr dan Taghlib, 'Abd al-Qays, serta Banu Hanifah. Suku-suku paling terkemuka dari Nizar melalui putranya, Mudar, adalah Banu Tamim, suku-suku Qays Aylan, Hudayl, dan Kinanah, yang kelak melahirkan sub-suku Quraisy.

Kaum Adnani awalnya tinggal di Hijaz, tetapi banyak di antara mereka pergi ketika wilayah itu menjadi terlalu padat penduduk. Bakr dan Taghlib berpindah ke utara di sepanjang tepian Sungai Efrat. 'Abd al-Qays berangkat ke Bahrain, Tamim dan suku-suku Qays 'Aylan berpindah ke Najd, sedangkan Banu Hanifah ke Yamamah.

Dengan demikian, Makkah menjadi tempat pertemuan kaum Adnani, keturunan Ismail ﵇, dan kaum Qahtani. Ka’bah, yang dibangun oleh Ibrahim ﵇ dan Ismail ﵇, selama berabad-abad tetap menjadi pusat spiritual Jazirah Arab dan rumah paling suci dalam Islam.