- Siapakah Christiaan Snouck Hurgronje?
- Christiaan Snouck Hurgronje (Oosterhout, 8 Februari 1857 – Leiden, 26 Juni 1936) adalah orientalis dan arabis Belanda paling berpengaruh pada zamannya. Ia mempelajari teologi, bahasa-bahasa Semit, dan Islam di Universitas Leiden, meraih gelar doktor pada 1880 dengan disertasi tentang haji, dan kemudian menduduki kursi guru besar bahasa Arab dan lembaga-lembaga Islam di sana. Dari 1889 hingga 1906 ia menjabat sebagai penasihat pemerintah kolonial di Hindia Belanda. Kehidupan gandanya sebagai sarjana sekaligus penasihat negara menjadikannya tokoh kunci untuk memahami bagaimana pengetahuan Eropa tentang Islam dan kekuasaan kolonial saling terjalin.
- Apakah Snouck Hurgronje masuk Islam?
- Pada 1885 Snouck mengambil nama Arab Abdul Ghaffar agar dapat memasuki Makkah, kota yang terlarang bagi non-Muslim. Apakah syahadatnya tulus masih diperdebatkan hingga kini. Dalam sebuah surat tahun 1886 ia sendiri menggambarkan keislamannya sebagai sarana; kemudian di Hindia Belanda ia menikahi Sangkana, putri seorang penghulu setempat, dalam upacara Islam pada 1890, lalu Siti Sadijah pada 1898. Entah iman atau strategi, bagi orang-orang Muslim sezamannya di Makkah dan Aceh ia adalah seorang saudara seiman, sementara bagi Den Haag ia tetaplah putra seorang pendeta Gereja Reformasi Belanda yang Protestan.
- Apa yang ia lakukan di Makkah pada 1884–1885?
- Snouck menghabiskan sekitar enam bulan di Jeddah dan hampir enam bulan di Makkah sendiri (Februari hingga Agustus 1885). Ia mempelajari ritual haji, kehidupan keilmuan di sekitar Masjidil Haram, dan komunitas Jawi, yaitu para jemaah dari kepulauan Nusantara. Karyanya dua jilid "Mekka" (1888–1889) tetap menjadi karya rujukan Barat tentang kota itu selama hampir seabad, disertai sebagian foto paling awal yang pernah diambil dari Ka'bah dan ibadah haji. Ia mengamati sebagai sarjana sekaligus mata-mata; kedua dunia itu bertemu di Makkah, dan ketegangan itulah yang masih membentuk perdebatan seputar karyanya.
- Apa perannya dalam Perang Aceh?
- Sejak 1891 Snouck berkeliling Aceh dan menulis karya dua jilid "De Atjèhers" (1893–1894), yang menjadi cetak biru bagi strategi kontra-pemberontakan Belanda. Ia membedakan "ulama" (elite agama, penggerak utama perlawanan) dari "uleebalang" (bangsawan adat, yang dapat dijadikan sekutu) dan menasihati Jenderal Joannes Benedictus van Heutsz antara 1898 dan 1905 dalam kampanye militer yang akhirnya mematahkan perlawanan Aceh. Korban jiwa di pihak Aceh diperkirakan mencapai puluhan ribu orang. Analisisnya cemerlang secara ilmiah dan menghancurkan secara politik; di Aceh, keilmuan dan kekerasan menjadi dua sisi dari laporan yang sama.
- Apa saja karya terpentingnya?
- Tiga buku menjadi intinya: "Mekka" (1888–1889, dua jilid ditambah album foto), "De Atjèhers" (1893–1894, dua jilid), dan "The Holy War 'Made in Germany'" (1913), polemiknya terhadap upaya Jerman selama Perang Dunia I untuk memprovokasi jihad. Ia juga menulis lebih dari seribu artikel dan nota pemerintah. Surat-menyuratnya dengan Theodor Nöldeke dan Ignaz Goldziher adalah sumber kunci bagi lahirnya kajian Islam modern. Buku-bukunya masih dicetak dan masih dikutip, pengingat bahwa gagasan Eropa tentang Islam sering kali berakar pada biografi yang sangat spesifik, bukan pada keilmuan yang netral.
- Mengapa Snouck Hurgronje kontroversial?
- Kontroversinya berlapis tiga. Pertama, etika keislamannya yang dibuat-buat dan tinggalnya secara rahasia di Makkah. Kedua, keterlibatannya secara langsung dalam kampanye militer di Aceh, dan dengan demikian dalam kekerasan kolonial terhadap umat Islam. Ketiga, sejak "Orientalisme" karya Edward Said (1978), pertanyaan apakah karyanya benar-benar mengkaji Islam atau justru memproduksi citra Islam versi Eropa-kolonial. Cut Nyak Dhien ﵂ dan para ulama Aceh ﵀, di antaranya Teungku Chik di Tiro ﵀, berjuang melawan sistem yang ikut ia rancang. Ia bukan monster maupun orang suci sebagaimana dalam polemik; ia adalah sarjana cemerlang yang mengikatkan bakatnya pada sebuah negara yang berperang melawan umat, dan ikatan itulah yang membuat ia masih dibaca hingga kini, dengan kekaguman dan kengerian dalam kadar yang sama.