Pada masa pembinaan, Quraisy mengetahui dakwah Nabi ﷺ, tetapi tidak terlalu memedulikannya. Saat itu, risalah tersebut tidak mengancam agama, kedudukan, ataupun kepentingan dagang mereka. Lagi pula, mereka mengenal orang Kristen dan Yahudi yang tentu memiliki perbedaan agama dengan penduduk Makkah. Sebagaimana telah kita bahas dalam artikel-artikel tentang Jahiliah, hubungan Quraisy dan bangsa Arab lainnya dengan orang Yahudi dan Kristen, baik di dalam maupun di luar Jazirah Arab, bercirikan hidup berdampingan. Tidak pernah terjadi penganiayaan atas dasar keyakinan agama.
Lalu, apa sebenarnya persoalannya? Mengapa sikap Quraisy berubah dari acuh tak acuh menjadi permusuhan terbuka?
Nabi ﷺ Mendaki ash-Safa
Ketika Nabi ﷺ menerima perintah untuk menyampaikan risalah beliau secara terbuka, beliau mendaki gunung ash-Safa. Dari bukit yang menghadap atap-atap rumah dan gang-gang Makkah ini, beliau menyerukan dengan suara lantang pekik tanda bahaya yang sudah dikenal luas:
يَا صَبَاحَاهْ
"Oh, bencana di pagi hari!"
Pekik tanda bahaya bangsa Arab ketika ancaman bahaya sudah dekat
Seruan ini merupakan tanda bahaya yang diteriakkan ketika serangan musuh atau bencana sudah dekat. Orang-orang Quraisy berbondong-bondong datang. Mereka yang tidak dapat datang mengirim utusan untuk mendengar apa yang sedang terjadi. Setelah kabilah-kabilah berkumpul, Nabi ﷺ memanggil mereka satu per satu menurut nama kabilah mereka.
Nabi ﷺ: Wahai Bani Abdul Muthalib! Wahai Bani Abdu Manaf! Wahai Bani Zuhrah! Wahai Bani Fihr!
Nabi ﷺ: Jika aku memberi tahu kalian bahwa di balik gunung ini ada pasukan yang hendak menyerang kalian, apakah kalian akan memercayaiku?
Quraisy: Ya! Kami tidak pernah mendengar apa pun darimu selain kebenaran.
Nabi ﷺ: Kalau begitu, aku adalah pemberi peringatan bagi kalian tentang azab berat yang terbentang di hadapan kalian.
Keheningan yang menyusul hanya berlangsung singkat. Abu Lahab, paman Nabi ﷺ, berdiri lalu berseru:
“Tabban laka! Celakalah engkau! Untuk inikah engkau mengumpulkan kami di sini?”
Pada saat itu, turunlah wahyu:
تَبَّتۡ يَدَآ أَبِي لَهَبٖ وَتَبَّ مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُ مَالُهُۥ وَمَا كَسَبَ سَيَصۡلَىٰ نَارٗا ذَاتَ لَهَبٖ
Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan semoga dirinya pun binasa. Harta dan apa yang telah diusahakannya tidak akan berguna baginya. Dia akan terbakar dalam api yang bergejolak.
QS. Al-Masad: 1-3
Reaksi Abu Lahab mengungkap banyak hal. Ia tidak menolak peringatan itu berdasarkan isinya, tidak dengan argumen dan tidak pula dengan tawaran lain. Ia menolak sang pembawa risalah. Pola berupa serangan terhadap pribadi, alih-alih risalahnya, akan terus berulang dalam pertentangan antara Islam dan kaum elite Makkah.
Islam: Lebih dari Sekadar Perbedaan Spiritual
Mengapa Quraisy bereaksi begitu keras? Lagi pula, mereka telah hidup berdampingan dengan orang Yahudi dan Kristen selama bertahun-tahun tanpa konflik. Jawabannya terletak pada hakikat risalah itu sendiri.
Risalah Islam bukan semata-mata perkara spiritual. Risalah ini bukan hanya seruan untuk menyembah satu Tuhan alih-alih banyak tuhan, meskipun tauhid merupakan intinya. Risalah ini adalah seruan untuk mengubah masyarakat secara menyeluruh: hukum, adat istiadat, dan struktur kekuasaannya. Islam tampil sebagai pilihan pengganti bagi tatanan yang mapan, bukan sebagai tambahan baginya.
Inilah yang kita maksud ketika berbicara tentang tauhid yang menjadi pusat perhatian pada fase ini. Tauhid sering dipersempit menjadi ibadah individual yang bersifat spiritual. Namun, tauhid dalam makna sejatinya menyentuh segala sesuatu: siapa yang berhak menetapkan hukum? Siapa yang menentukan apa yang dibolehkan dan dilarang? Siapa yang mengurus kepentingan rakyat? Jawaban Islam atas semua pertanyaan ini tegas: hanya Allah ﷻ.
Inilah tepatnya yang dipahami Quraisy. Mereka melihat bahwa risalah ini, jika berakar, akan menggerogoti seluruh kedudukan mereka sebagai penguasa. Ka’bah yang mereka kuasai bukan hanya pusat keagamaan, tetapi juga pusat kekuasaan politik dan ekonomi mereka. Berhala-berhala yang mereka tempatkan di sana menarik para peziarah dari seluruh penjuru Arab, yaitu orang-orang yang berdagang di pasar mereka dan membuat perjanjian menurut ketentuan mereka.
Nabi ﷺ sebagai Pemberi Peringatan
Setelah penyampaian terbuka di ash-Safa, Nabi ﷺ mulai mengajak manusia kepada Islam siang dan malam. Setiap orang yang beliau temui, baik orang merdeka maupun budak, lemah maupun kuat, kaya maupun miskin, beliau ﷺ pandang setara dalam hal menerima risalah.
Tanggapan mereka beragam. Sebagian mendengarkan dan memeluk Islam. Sebagian lain menolak risalah tersebut, tetapi tetap menghormati pembawa risalah. Kelompok ketiga, yang dipimpin Abu Jahal dan Abu Lahab, memilih permusuhan terbuka. Bukan karena Nabi ﷺ berkata dusta, sebab di atas gunung itu mereka sendiri telah mengakui bahwa beliau dapat dipercaya, melainkan karena dampak risalah beliau terlalu besar untuk mereka terima.
Nabi ﷺ tidak berkecil hati. Beliau ﷺ terus mengajak, terus memperingatkan, dan terus mencari ruang dialog. Pembinaan yang bermula secara rahasia kini memasuki ruang publik. Fase interaksi dengan masyarakat, berupa pergulatan pemikiran antara Islam dan tatanan yang mapan, telah dimulai.
